TEKNOLOGI

RI Punya Alat Deteksi Benda Luar Angkasa

LAPAN mengembangkan perangkat lunak pendeteksi masuknya benda luar angkasa, Track-it 2.0.
Selasa, 2 November 2010
Oleh : Elin Yunita Kristanti
Lokasi ledakan di Duren Sawit, Jakarta Timur

VIVAnews - Ancaman bagi manusia tak hanya berasal dari dalam Bumi seperti gempa dan letusan gunung berapi. Ada juga ancaman yang datangnya dari langit -- salah satunya asteroid yang  sewaktu-waktu bisa menerobos atmosfer dan menubruk Bumi.

Indonesia punya beberapa pengalaman soal ini. Meteorit jatuh dari langit dan menimpa empat rumah di pemukiman penduduk di Jalan Delima VI gang 2, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat 30 April 2010.

Atau jatuhnya meteor Bone yang memiliki daya ledak setara 50 kilo ton bahan pembuat bom TNT pada 8 Oktober 2009. Ini bahkan diakui sebagai salah satu fenomena Astronomi 2009.

Sebagai langkah antisipasi untuk mendeteksi masuknya benda luar angkasa yang berada di wilayah Indonesia, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) membuat sebuah software khusus bernama Track-it 2.0.  

"Software pendeteksi benda langit ini buatan asli Indonesia yang dibuat oleh tim bidang orbit matahari dan antariksa Lapan," ujar Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN, Abdul Rachman, saat acara Diseminasi Cuaca Antariksa dan Benda Jatuh Antariksa di Gedung Pusat Pengembangan Sains dan Antariksa LAPAN Bandung, Selasa 2 November 2010.
 
Dipaparkannya, pernati lunak yang dinamai Track-it 2.0 telah dikembangkan sejak setahun. Ini akan ditampilkan di situs LAPAN.

"Agar masyarakat bisa melihat langsung pergerakan benda angkasa per satu jam, mungkin dalam satu minggu ini siap ditampilkan di web," paparnya.

Lebih lanjut, Abdul Rachman menjelaskan bahwa Track-it 2.0 bisa mendeteksi benda luar angkasa dengan radius dibawah 200 kilometer. 

"Jika warna garis pergerakannya merah itu menandakan bahaya, karena jaraknya antara 90 Km sampai dengan 120 Km dari permukaan bumi, tapi kalau diatas 120 Km relatif aman," jelasnya.

Dijelaskannya, dalam tampilan pernti lunak Track-it 2.0, masyarakat bisa mengetahui volume benda antariksa, nama benda, nomor katalog, pemilik benda dan jarak benda dengan bumi.

"Pada tampilan software, banyak terdapat data yang bisa dilihat, misalnya jarak benda dengan bumi, pemilik benda angkasanya, nomor katalognya sebanyak 15 ribu benda yang terdata, dan lain sebagainya. Untuk lebih memperjelas penggunaannya kita membuat acara diseminasi ini agar masyarakat bisa lebih paham akan software ini," pungkasnya.

(Laporan: DHR| Bandung, umi)

TERKAIT
TERPOPULER