TEKNOLOGI

Modulasi Gen untuk Atasi Kelainan Gen

Penelitian ini dilakukan peneliti asal Australia untuk atasi hemofilia dan thalassemia.

ddd
Rabu, 30 Mei 2012, 17:09 Bayu Galih, Amal Nur Ngazis
Teknologi ini bekerja dengan memotong kemudian memasang DNA serta menggerakkan gen di antara organisme.
Teknologi ini bekerja dengan memotong kemudian memasang DNA serta menggerakkan gen di antara organisme. (besteasyseo.blogspot.com)

VIVanews - Peneliti Australia mengembangkan modulasi gen untuk mengobati penyakit kelainan gen yang terjadi pada manusia seperti hemofilia dan thalassemia.

Modulasi gen ini menggunakan teknologi Recombinant DNA Technology. Teknologi itu bekerja dengan memotong, kemudian memasang DNA serta menggerakkan gen di antara organisme.

"Ini sedang kami kembangkan dan masih percobaan. Kami gunakan teknologi kombinasi gen," kata Professor Merlin Crossley yang juga menjabat Dekan Fakultas Ilmu Sains University of New South Wales di Kantor Kedubes Australia, Kuningan, Jakarta, Rabu 30 Mei 2012.
 
Crossley mengungkapkan, ia mengembangkan skema memperbaiki mutasi gen dengan memodulasi gen-gen yang telah bermutasi tersebut. Selain itu, juga membangkitkan gen dari luar melalui DNA-Binding Protein yang diintegrasikan dengan gen yang terdapat dalam tubuh.

Dengan skema tersebut, menurutnya, struktur gen yang tidak seimbang akan terisi kembali dengan pengiriman gen dari luar.

Langkah modulasi gen merupakan upaya untuk mendapatkan gen yang normal. Penyakit kelainan gen manusia terjadi, karena adanya mutasi gen yang menyebabkan gen dalam tubuh manusia menjadi tidak seimbang.

Pada keadaan normal, gen memberikan kode serta mengeluarkan protein untuk menghasilkan aktivitas yang berjalan dengan baik. Kondisi normal tersebut membuat sel bekerja, membelah diri dan kemudian tumbuh kembali. Dalam keadaan normal, terdapat gen yang berfungsi mengatur.

Namun, dalam kondisi manusia mengalami mutasi gen, ketidakseimbangan gen terjadi dan tubuh membutuhkan pasokan DNA protein dari luar.

Crossley menambahkan, percobaan yang dilakukannya masih intensif dikembangkan dalam binatang yakni tikus. "Masih di binatang, belum ke manusia," ujarnya.

Ia mengaku telah menerapkan percobaan tersebut ke manusia, tetapi malah terjadi masalah. Untuk pasien hemofilia, menurutnya, berjalan dengan baik. Namun, untuk pasien leukimia setelah dilakukan mutasi gen ini malah tumbuh penyakit.

Meski demikian, Crossley optimistis semuanya berjalan dengan baik ke depannya. Setidaknya, alternatif solusi yang dikembangkan itu akan lebih murah dibandingkan dengan pengobatan medis lainnya. (asp)


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru