TEKNOLOGI

Raksasa Berbulu Bigfoot Disebut Punya DNA Manusia

Nenek moyang Bigfoot diduga pernah berhubungan seks dengan manusia.
Senin, 3 Desember 2012
Oleh : Bayu Galih, Tommy Adi Wibowo
Makhluk diduga Bigfoot di Amerika Serikat

VIVAnews - Sebuah perusahaan DNA Diagnostics mengungkap bahwa Bigfoot, raksasa berbulu misterius, adalah saudara dari manusia. Penemuan baru ini berdasarkan penelitian yang dipimpin oleh seorang dokter hewan di Texas.

Studi genetik yang dipimpin oleh Melba S Ketchum mengungkap bahwa ada makhluk misterius yang berhubungan seks dengan manusia, lalu menghasilkan makhluk hibrida hominim berbulu. Namun, para ilmuwan meragukan klaim tersebut.

Menurut Melba S Ketchum, pendiri perusahaan DNA Diagnostics, tim ilmuwan telah melakukan studi DNA selama lima tahun. Mereka menemukan ada spesies baru hibrida hominim atau biasa disebut Bigfoot atau nenek moyangnya yang disebut Sasquatch, yang hidup di Amerika Utara.

"Dari tes DNA yang dilakukan menunjukkan bahwa makhluk misterius Sasquatch yang hidup 15.000 tahun lalu adalah kerabat manusia," kata Melba S Ketchum, dilansir dari Livescience.

Hasil dari proses sampel menunjukkan bahwa Sasquatch mtDNA identik dengan Homo sapien modern. Sementara itu, Sasquatch nuDNA adalah hominim yang diketahui terkait spesies Homo sapien dan primata lainnya.

"Temuan ini menunjukkan Sasquatch yang berasal dari Amerika Utara adalah spesies hibrida hasil persilangan antara spesies hominim dan Homo sapien wanita," tambah Melba S Ketchum.

Bukti temuan diragukan


Hasil temuan yang dihasilkan oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Melba S Ketchum belum diperiksa oleh peneliti lain, karena tidak mendapat izin dari Melba. Ini menyebabkan temuan Melba masih diragukan validitas kesimpulannya.

Namun, dari hasil studi yang memperlihatkan bahwa mtDNA Sasquatch identik dengan homo sapien modern menjadi petunjuk yang dianggap penting.

Selain itu ada interpretasi lain dari temuan tesebut, yaitu sampel yang telah terkontaminasi. Bisa saja sampel itu berasal dari Bigfoot, manusia, beruang atau sesuatu yang lain, melalui bersin, batuk, atau ludah.

Selain tim peneliti, tidak ada orang yang tahu bagaimana sampel didapatkan, bisa dari mana dan dari siapa saja. Bisa saja sampel tersebut didapatkan oleh penggemar Bigfoot yang tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang bukti-bukti otentik dari Bigfoot.

Keberadaan Bigfoot

Muncul banyak pertanyaan dari penemuan tersebut, di antaranya adalah bagaimana tim peneliti menemukan sampel Bigfoot? Apakah mereka mendapatkan dari darah atau air liur yang masih hidup?

Bagaimana tim bisa sedekat itu dengan Bigfoot? Jika memang sampel yang ditemukan di alam liar, bagaimana mereka tahu bahwa sampel itu merupakan jejak dari Bigfoot?

Ada banyak alasan mengapa sampel DNA tidak bisa dipercaya. Sebab, bisa saja sampel sudah terkontaminasi atau rusak oleh kondisi lingkungan.

Melba S Ketchum juga mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintah AS harus menganggap Bigfoot adalah makhluk adat yang harus dilindungi keberadaannya. Namun, selama ini tidak ada bukti nyata yang menunjukkan bahwa makhluk misterius yang konon berbadan besar, setinggi 2,5 meter, berat 400 kilogram, dengan bulu menutupi sekujur tubuhnya pernah diburu dan mati terbunuh. (art)

TERKAIT
TERPOPULER