TEKNOLOGI

Mungkinkah Residivis Ulangi Perbuatannya?

Peneliti kini bisa membedakan penjahat yang benar-benar insyaf.
Rabu, 27 Maret 2013
Oleh : Muhammad Chandrataruna, Amal Nur Ngazis
Sel penjara (ilustrasi)
VIVAnews - Para ahli syaraf telah berhasil menemukan cara untuk mengetahui apakah mantan narapidana mempunyai potensi mengulangi perbuatan kriminal setelah ke luar dari penjara.

Yaitu, dengan memindai otak dari para penjahat tersebut. Terdengar praktis. Tapi, bagaimana cara kerjanya?

Hasil pemindaian menunjukkan, narapidana dengan aktivitas rendah pada area otak tertentu, terutama yang berhubungan dengan pengambilan keputusan dan aksi, kemungkinan besar akan mengulangi kejahatannya, dan bisa segera diringkus kembali.

Seperti dilansir Nature, 27 Maret 2013, Kent Kiehl, seorang ahli syaraf dari lembaga non-profit Mind Research Network di Albuquerque, New Mexico-AS, bersama timnya telah mempelajari 96 tahanan laki-laki sebelum mereka dibebaskan.

Para peneliti menggunakan teknologi pencitraan resonansi magnetik fungsional, atau populer di kalangan kedokteran dengan istilah functional magnetic resonance imaging (fMRI), untuk memindai otak para tahanan dan dipantau melalui komputer.

Dalam konteks ini, narapidana diminta untuk membuat keputusan yang cepat dan menghambat reaksi impulsif mereka.

Pemindaian difokuskan pada aktivitas di bagian korteks cingulate anterior (ACC), sebuah daerah kecil di bagian depan otak yang terlibat dalam kontrol motorik dan fungsi eksekusi.

Dengan modal pemindaian ini, peneliti kemudian memantau mantan narapidana selama empat tahun setelah bebas untuk melihat bagaimana aktivitas mereka.

Narapidana yang memiliki aktivitas ACC yang rendah saat didesak membuat keputusan cepat, disebutkan lebih berpotensi ditangkap kembali selepas menikmati udara bebas.

Secara lebih detail, narapidana yang berada di bagian bawah peringkat aktivitas ACC, memiliki potensi 2,6 kali lipat lebih besar mengulangi semua kejahatan yang pernah dilakukannya, dan 4,3 kali lipat lebih besar melakukan kejahatan tanpa kekerasan.

Tor Wager, seorang ahli saraf University of Colorado, melihat peningkatan minat menggunakan pencitraan saraf dapat memprediksi perilaku seseorang melakukan sesuatu.

Dia menjelaskan, studi semacam ini bertujuan menemukan pola aktivitas otak yang bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Tapi, Kiehl masih membutuhkan pengujian apakah teknik yang dipakainya cukup konsisten.

Meski pemindaian otak belum memberikan sebuah kepastian tingkah laku narapidana di masa depan, setidaknya teknik ini diklaim dapat menjadi pertimbangan bagi petugas untuk melepaskan tahanan ataupun menetapkan pada tahap rehabilitasi.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam Prosiding National Academy of Sciences. (umi)
TERKAIT
TERPOPULER