TEKNOLOGI

Riset: Manusia Bisa Jadi "Satu Keluarga" dengan Cacing Tak Berotak

Klaim ini dapat ditelusuri dari proses pembentukan embrio.

ddd
Senin, 1 April 2013, 16:24 Renne R.A Kawilarang, Amal Nur Ngazis
Cacing bergigi, gnathostomiasis
Cacing bergigi, gnathostomiasis (CDC)

VIVAnews - Tim Ilmuwan Swedia mengumumkan temuan baru atas 'cacing paradoks' atau Xenoturbella bocki. Menurut temuan itu, pertumbuhan embrio pada cacing ini dianggap kemungkinan memiliki keterkaitan dengan nenek moyang manusia.

Cacing itu disebut paradoks, karena organisme bertubuh sederhana ini tidak punya beberapa elemen dasar bagi mahluk hidup, yaitu otak, organ seks dan organ vital. Tim ilmuwan di Universitas Gothenburg, dalam penyataan yang dimuat Huffington Post 1 April 2013, menyebut bukti baru bahwa mahluk kecil itu bisa saja termasuk 'nenek moyang manusia'.

Cacing yang memiliki panjang 1 cm saat dewasa ini, dianggap beberapa peneliti sebagai jaringan biologis penting di antara banyak spesies.

Meski status cacing itu diperdebatkan oleh ahli ahli hewan, sebuah studi baru yang diterbitkan oleh para peneliti di Center for Marine Research dan  Gothenburg Natural History Museum memberikan bukti bahwa hewan itu mungkin memiliki cabang pohon keluarga mahluk yang disebut deuterostoma. Manusia juga termasuk anggota dari pohon keluarga tersebut.

Deuterostoma, merupakan nama yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti "mulut akhir."  Istilah ini merujuk pada perilaku sel pada saat pembentukan embrio.

Pada masa awal pembentukan embrio, ketika si janin masih terdiri dari beberapa ratus sel dan berbentuk bola, di salah satu sisi embrio akan timbul suatu tonjolan dan belahan.

Pada dueterostoma, lubang pertama berubah menjadi menjadi anus. Setelah itu, menyusul pembentukan mulut.

"Jadi mungkin kita lebih erat terkait dengan cacing Xenoturbella bocki, yang tidak punya otak, daripada dengan mahluk lain, misalnya lobster dan lalat," kata rekan penulis studi, Matthias Obst dalam pernyataannya yang dukutip Huffington Post.

Para peneliti menemukan bahwa perkembangan embrio awal cacing ini mirip dengan manusia, dengan demikian ini bisa membantu menjawab pertanyaan tentang bagaimana organ tubuh manusia terbentuk.

Cabang Sendiri

Obst menjelaskan, walau berkaitan dengan manusia dan deuterostoma lain, cacing itu mungkin juga menempati "cabang evolusi" sendiri.

Mengingat hubungan khusus, Obst mengatakan cacing ini bisa menunjukkan "mekanisme khas dan proses yang terkait dengan penuaan , lanjut usia serta regenerasi organ dan jaringan" yang kemudian dapat diterapkan untuk penelitian sel induk manusia dan biomedis teknologi lainnya.

Selama penelitian, tim Gothenburg mampu mengisolasi spesimen cacing tersebut yang baru lahir untuk pertama kalinya. Dengan menggunakan proses untuk memperkuat dan menyalin DNA yang dikenal sebagai polymerase chain reaction (PCR), tim telah mampu menggandakan DNA cacing menggunakan sampel yang diekstrak dari telur dan embrio.

Studi ini mencatat bahwa analisis DNA berurutan lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah benar atau tidak cacing paradoks ini merupakan cabang tersendiri di antara deuterostoma.

Penelitian, "Xenoturbella bocki dan kaitannya dengan dengan Acoelomorpha," telah diterbitkan di Nature Communications pada edisi Februari 2013. (ren)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com