TEKNOLOGI

Mau Bikin Senjata Api? Pakai Printer Ini

Membuat senjata api kini mudah. Cukup beli printer 3D. Murah.
Rabu, 8 Mei 2013
Oleh : Muhammad Chandrataruna, Tommy Adi Wibowo
Seorang menguji pistol yang dicetak dengan printer 3D

VIVAnews - Penyebaran kepemilikan senjata api akan semakin luas. Ini dibuktikan dengan semakin mudahnya seseorang mendapatkan senjata api buatan. Ya, cukup mudah. Karena teknologi printer 3D.

Baru-baru ini, sebuah kelompok kontroversial bernama Defense Distributed berhasil menciptakan senjata api pertama yang dibuat dari sebuah printer 3D atau tiga dimensi. Kelompok ini bahkan berencana untuk menjual senjata rakitan itu secara online.

Ide itu datang setelah melihat penggunaan printer yang lebih murah dalam menciptakan sebuah objek atau barang ketimbang membelinya di toko.

Dengan printer 3D, orang-orang yang ingin memiliki senjata api cukup mengunduh dan mencetaknya di printer rumah.

Dilansir BBC, 8 Mei 2013, Defense Distributed telah menghabiskan bertahun-tahun untuk membuat senjata api dengan teknologi terbaru. Dan, telah sukses melakukan uji coba tembakan pertamanya pada Sabtu, 4 Mei 2013, di Austin, Texas, Amerika Serikat.

Teknologi terbaru ini bekerja dengan mencetak lapisan demi lapisan plastik jenis ABS, dan mengubahnya menjadi material yang padat.

Biaya yang diperlukan untuk membuat sebuah pistol dari printer 3D ini adalah US$8.000, setara Rp78 juta.

Menurut Cody Wilson, 25 tahun, pemimpin Defense Distributed, yang juga mahasiswa hukum di University of Texas, AS, akan ada banyak orang yang berharap agar teknologi ini tidak berhasil.

"Tapi, dunia percetakan 3D telah menjadi industri manufaktur di masa depan. Tentu saja teknologi terbaru ini memiliki risiko dan manfaat," kata Wilson.

Dia menambahkan, merancang desain pistol dan bisa dimiliki oleh banyak orang adalah sebuah bentuk kebebasan. Menurutnya, teknologi telah membuat orang-orang bisa memiliki apa saja yang diinginkan.


Pistol yang terbuat dari printer 3D. (BBC)


Ancaman Serius

Badan legislatif di AS yang merancang Undang-Undang mengenai senjata api telah menyatakan keprihatinannya terhadap teknologi pembuatan senjata api tersebut.

Begitu pun di Eropa. Victoria Baines, dari Europol Cybercrime Centre mengatakan, lembaga penegak hukum di Eropa kini terus memantau perkembangan teknologi pencetakan senjata api 3D.

"Sekarang, para penjahat akan lebih mudah mendapatkan senjata api. Itu adalah pengaruh dari sebuah teknologi baru yang membuat sebuah barang menjadi lebih mudah dibuat dan dengan biaya yang hemat," tutur Baines.

Sementara menurut Leah Gunn Barrett, dari New Yorkers Against Gun Violence, jika senjata api itu jatuh ke tangan orang yang salah, tentu akan menjadi sangat berbahaya.

"Jika orang-orang yang memiliki kerusakan mental, atau anak-anak di bawah umur, memiliki senjata api tersebut, tentu berpotensi membunuh banyak orang," ujar Barrett.

Saat ini, lembaga penegak hukum di seluruh dunia telah menugaskan sebuah tim untuk mengawasi jenis-jenis cybercrime dan perluasan teknologi cetak 3D.

"Teknologi telah berkembang sangat pesat di luar dugaan. Satu langkah baru dalam teknologi sama saja dengan satu langkah kecanggihan seorang penjahat," ucap Baines.

Untuk mengintip seperti apa senjata api berteknologi 3D itu bekerja, Anda bisa melihat cuplikan video berikut ini:

TERKAIT
TERPOPULER